HIKMAH IBADAH QURBAN-2

Bismillahirrohmanirrohim
Setiap ibadah pasti ada hikmahnya. Hanya Allah sendiri yang mengetahui rahasia dan hikmah seluruh ajaran agama yang diturunkan-Nya. Hikmah Allah ada yang diungkap dalam kitab atau sunnah Rasul, ada pula yang tidak disinggung.

Bagian hikmah yang tidak disinggung ini, hanya dapat diketahui dan dihayati oleh kalangan tertentu, yang dalam Al-Quran dinamakan Arrasikhuuna fil-‘ilmi, yakni mereka yang kuat imannya dan kelebihan ilmu oleh Allah, yang tidak diberikan kepada orang lain (QS Ali Imran, 3:7)

Di antara hikmah Qurban, ialah mendekatkan diri (taqarrub) kepadaNya atas segala kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya yang jumlahnya tak seorangpun dapat menghitungnya (QS Ibrahim, 14:34). Hikmah secara eksplisit dan tegas tentang ibadah qurban ini, telah diungkapkan dalam Al-Quran:

Hikmah lainnya, dalam rangka menghidupkan sunnah Nabi Ibrahim, yang dikenal sebagai Bapak agama monoteisme (Tauhid). Ibadah ini berasal dari pengurbanan agung yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim terhadap puteranya yang memenuhi perintah Allah.

Allah sangat menghargai dan memuji pengurbanan Nabi Ibrahim yang dilandasi oleh iman dan takwanya yang tinggi dan murni, kemudian megganti puteranya Ismail yang akan dikurbankan itu dengan seekor hewan domba yang besar (QS Ash-Shaffat, 37:107).

Hikmah berikutnya adalah dalam rangka menghidupkan makna takbir di Hari Raya Idul Adha, dari tgl 10-13 Dzul-Hijjah, yakni Hari Nasar (penyembelihan) dan hari-hari tasyriq. Memang Syari-at agama kita menggariskan, bahwa pada setiap Hari Idul Fitri dan Adha, setiap orang Islam diperintahkan untuk mengumandangkan takbir.

Hal ini memberikan isyarat kepada kita, bahwa kebahagiaan yang hakiki, hanya akan terwujud, jika manusia itu dengan setulusnya bersedia memberikan pengakuan dan fungsi kehambaannya di hadapan Allah dan tulus bersaksi hanya Allah yang Maha Besar, dan sifat kesempurnaan lainnya.

Kebahagiaan yang sebenarnya akan tercapai, apabila manusia menyadari bahwa fungsi keberadaannya didunia ini hanyalah untuk menjadi hamba dan abdi Allah, bukan abdi dunia, ataupun abdi setan (QS Al-Dzarriyat, 51:56)

Di samping itu Hari Raya Qurban merupakan Hari yang berdimensi sosial kemasyarakatan yang dalam. Hal itu terlihat ketika pelaksanaan pemotongan hewan yang dikorbankan, para mustahik yang akan menerima daging-daging kurban itu berkumpul.

Mereka satu sama lain meluapkan rasa gembira. Yang kaya dan yang miskin saling berpadu, berinteraksi. Luapan kegembiraan di hari itu, terutama bagi orang miskin-fakir, sangat tinggi nilainya, ketika mereka menerima daging hewan kurban tersebut.

Dimensi Keikhlasan Setiap Ibadah
Semua ibadah hendaknya dilakukan ikhlas karena Allah (QS Al-An’am, 6:162-163). Termasuk ibadah haji dan Qurban. Karena hanya dengan niat yang terikhlas, akan terjamin kemurnian ibadah yang akan membawa pelaksanaannya dekat kepada Allah. Tanpa adanya keikhlasan, mustahil ibadah akan diterima Allah (QS Al-Bayyinah, 98:5)

Dalam kaitan dengan qurban, Allah menegaskan bahwa daging hewan yang diqurbankan itu tidak akan sampai kepada-Nya hanyalah ketaqwaan pelaksana qurban itu (QS Al-Haj, 22:37). Jadi Allah tidak mengharapkan daging dan darahnya, tetapi mental ketaqwaan ini tidak akan tumbuh di hati yang bersih dan ikhlas.

Qurban mempunyai hikmah untuk membersihkan hati agar menjadi lahan yang subur untuk tumbuhnya iman dan taqwa. Dengan demikian, dimensi keikhlasan sudah seharusnya menjadi landasan setiap amal perbuatan manusia, agar manusia mengorientasikan kehidupannya untuk mencapai ridhaNya.

Dengan ikhlas beramal, berarti seseorang membebaskan dirinya dari segala bentuk rasa pamrih, agar amal yang diperbuat tidak bernilai semu dan bersifat palsu. Dengan keikhlasan, seseorang dapat mewujudkan amal sejati.

Kesediaan berqurban yang dilandasi rasa keikhalan, dapat mengurangi keserakahan dan ketamakan manusia dan membangkitkan kesadarannya agar bersedia berqurban untuk sesamanya. Kesediaan ini mencerminkan pengakuan hak orang lain, dan dapat menumbuhkan rasa solidaritas sosial yang tinggi.

Dengan syari’at qurban ini, kaum muslimin dilatih untuk menebalkan rasa kemanusiaannya, mengasah kepekaannya dan menghidupkan hati nuraninya. Ibadah qurban ini sarat dengan nilai kemanusiaan dan mengandung nilai-nilai sosial yang tinggi.

Mari kita manfaatkan momen ini untuk mawas diri dengan lebih mendekatkan diri kepada Allah. Fastabiqul-khairat. Maka kita berlomba-lomba dalam berbuat kebajikan. (FR; bahan dari H. Abdullah Faqih.http://centrin21.tripod.com/DIMENSI_KEIKHLASAN.htm)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: