BERSIH LINGKUNGAN DAKWAH-4

Bismillahirrohmanirrohim
Surat kabar The Sydney Morning Herald, misalnya, dicetak di atas kertas hasil daur ulang itu. Konsep daur ulang itu sudah tentu tidak secara cepat menguras sumbar daya alam Kebutuhan kertas, misalnya, tidak selalu dipenuhi dengan cara membabat hutan.

Dari ilustrasi singkat ini tampak bahwa tingkat kebersihan sesuatu kota berkorelasi secara positif dengan tingkat perkembangan ekonominya. Akan tetapi tingkat perkembangan ekonomi yang maju saja tidaklah cukup bila tidak didukung oleh kesadaran warga terhadap kebersihan lingkungannya.

Di negara maju di dunia Barat, menjaga kebersihan lingkungan itu telah membudaya. Budaya bersih itu tumbuh bukan karena motivasi agama dinegara itu, tetapi oleh alasan pragmatisme; bersih itu sehat dan bersih itu indah. Di Agama kita kan diajarkan “Bersih itu bagia dari Iman”

Kita tidak akan pernah melihat sebuah puntung rokok pun di jalanan kota London, juga tidak melihat sampah dalam bentuk apa pun. Pada jarak tertentu disediakan tempat membuang sampah dan warga kota berdisiplin membuang sampah apa saja ke dalam tempat sampah itu.

Mensosialisasikan budaya bersih terutama di kota-kota haruslah dijadikan program yang anggarannya dialokasikan dalam APBD setiap kota, di tingkat RW atau anggaran DKM dan swadaya masyarakat. Sosialisasi itu sebaiknya melalui Tri Pusat Pendidikan, yaitu rumah tangga, sekolah dan masyarakat.

Di rumah tangga, kedua ortu harus menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menjaga kebersihan. Tempat sampah harus disediakan, termasuk di kamar tidur anak-anak. Semua sampah betapa pun kecilnya harus dibuang di tempat sampah tadi, dan aturan ini berlaku bagi seluruh anggota keluarga.

Di luar rumah tak boleh ada sampah berserakan. Sampah harus dikumpulkan untuk diangkut petugas kebersihan. Ini mungkin menjadi kendala bagi sebuah kota mengingat terbatasnya anggaran dan oleh karena itu hendaknya dibangun semacam proyek percontohan di kelurahan/kawasan tertentu.

Di sekolah, upaya di rumah tangga diteruskan guru sebagai motivator. Harus diciptakan lingkungan bersih dan setiap pelanggaran harus diberi sanksi, betapapun ringannya sanksi itu, misalnya simurid disuruh memungut kembali sampah yang dibuangnya dan memasukkannya ke dalam tempat sampah.

Upaya menginternalisasikan budaya bersih melalui rumah tangga dan sekolah itu akan mantap bila didukung lingkungan masyaratat yang bersih. Bila tidak, simurid akan melihat kesenjangan antara apa yang dibiasakannya di rumah dan di sekolah dengan realitas yang terjadi di masyarakat, dan ini tidak menguntungkan bagi pembentukan budaya lingkungan bersih itu.

Di sinilah para ulama/dai’ dapat memainkan peranannya. Sebagai tokoh yang paling sering bertatap muka dengan masyarakat, mereka diharapkan dapat membantu pemerintah dalam membangun budaya tersebut. Akan tetapi imbauan saja kadang-kadang tidak efektif.

Maka Peraturan Daerah tentang kebersihan perlu ditegakkan dengan memberi sanksi bagi pelanggar. Budaya bersih di negara maju itu tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi didukung penegakan hukum (law enforcement). Di London, sipembuang puntung rokok secara sembarangan dikenakan denda uang.
(FatchurR; diolah dari H. Yusuf Rahman, pensiunan PNS;  07/01/09; yusufrahmanblogdetikcom)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: