BERSIH LINGKUNGAN DAKWAH-3

Bismillahirrohmanirrohim
BEBERAPA waktu lalu diberitakan kota dengan predikat terbersih dan terkotor di provinsi Riau. Pekanbaru terpilih sebagai Kota Terbersih dan ini tidak mengejutkan karena melalui Progam K3 (Kebersihan, Keindahan, Ketertiban) Kota Bertuah ini sebelumnya bahkan meraih Anugerah Adipura dari pemerintah pusat .

Membaca berita tersebut penulis teringat pertemuan Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup (waktu itu) Emil Salim dengan para ulama di Gedung Daerah, katanya. “Saya bingung ketika diangkat menjadi menteri yang menangani tugas di luar keahlian saya”, kata beliau memulai pembicaraan.

Seperti diketahui beliau adalah ekonom dan sebelumnya menjabat Menteri Perhubungan. “Karena bingung, suatu hari saya menemui Buya Hamka dan memperoleh banyak informasi tentang lingkungan hidup dari sudut pandang Islam.

Buya menyarankan agar bila ke daerah temuilah para ulama dan sarannya itulah yang mendorong saya bertemu dengan para ulama malam ini” katanya. Pada pertemuan itu beliau mempertanyakan mengapa lingkungan hidup umat Islam tidak bersih sementara ajaran kebersihan termuat dalam agamanya.

Beliau meminta pandangan hadirin atas masalah ini. Setelah beberapa orang menyampaikan pandangannya, penulis mengatakan bahwa penyebab masalah itu adalah kemiskinan. “Bung benar”, tegasnya, “akan tetapi saya telah mengunjungi negara Islam kaya, dan lingkungannya tetap saja brengsek. Mengapa ini terjadi?”.

Beliau menjawab sendiri pertanyaan itu. “Penyebabnya adalah karena mereka tidak memiliki kesadaran lingkungan”, katanya. Jadi kemiskinan atau tak adanya kesadaran lingkungan menjadi kendala bagi lestarinya lingkungan hidup, termasuk lingkungan yang bersih.

Mengenai ajaran tentang kebersihan, para mubalig sering mengutip hadits Nabi yang begitu popular , yaitu, ” Kebersihan itu bagian dari iman”. Akan tetapi kemiskinan bisa menjadi salah satu penyebab mengapa ajaran itu tidak teramalkan secara utuh.

Hadits yang lain Nabi mengatakan bahwa “ Kemiskinan memperdekat ke kekufuran”. Kufur artinya ingkar dan dalam konteks ini hadits ini mengisyaratkan bahwa seseorang bisa mengingkari, dalam pengertian mengabaikan ajaran agama (termasuk ajaran tentang kebersihan) bila kondisinya miskin.

Perhatikanlah misalnya, warga kota yang karena kemiskinannya tinggal di kawasan kumuh. Mereka umumnya lebih bergulat memenuhi kebutuhan primer keluarganya ketimbang memikirkan kebersihan lingkungannya.

Akibatnya, sampah berserakan dan kakus dibuat seadanya, yang bisa mengundang berbagai penyakit. Namun kemiskinan tidak hanya terdapat pada tataran individu/kelompok, tetapi juga pada tataran negara.

Di negara miskin, kota-kota tidak mempunyai anggaran memadai yang dapat dialokasikan untuk menjaga kebersihan lingkungan. Petugas kebersihan kurang jumlahnya dan truk pengangkut sampah juga terbatas jumlahnya. Kondisi itu membuat kota tidak selalu bersih.

Sebaliknya, sebuah kota yang kaya seperti Sydney, sebagai contoh, mampu menjaga lingkungan yang bersih Pembangunan jalan raya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak ada rumah penduduk yang tidak bisa dilalui truk pengangkut sampah.

Dalam hal pengelolaan sampah, setiap keluarga membuang ke dalam tempat sampah yang dibuat menurut diameter tertenu. Pada hari tertentu tempat sampah itu diletakkan di atas trotoir di depan rumah untuk kemudian dipungut sampahnya oleh petugas kebersihan lewat tengah malam.

Petugas memungut sampah itu dengan menggunakan truk yang memiliki ‘tangan mekanik ’ yang bisa mengangkat tempat sampah ke atas truk, mengucurkan isinya dan meletakkannya kembali pada tempatnya. ‘Tangan mekanik’ itu dikendalikan sendirian oleh sang sopir dari tempat duduknya.

Jadi proses memungut sampah itu hanya dilakukan satu orang , tidak ‘padat karya’ seperti di negeri kita. Di tempat yang telah ditentukan sampah itu disortir menurut jenisnya (kertas, kardus, kaleng, plastik, kaca dan sebagainya ) untuk kemudian didaur ulang (recycling). (FatchurR; diolah dari H. Yusuf Rahman, pensiunan PNS;  07/01/09; yusufrahmanblogdetikcom)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: