DIMENSI KEIKHLASAN IBADAT HAJI

Bismillahirrohmanirrohim
“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup melakukan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran, 3:97)

Ibadat Haji dan Kain Ihram
Jutaan muslim, hari-hari ini telah berkumpul di kota suci Mekkah. Mereka datang untuk  memenuhi panggilan Allah melaksanakan ibadah haji. Mereka berpakaian seragam putih-putih, datang dari segenap pelosok dunia, berbeda-beda warna kulitnya, bahasanya, kebangsaannya dan status sosialnya.

Sejak mereka meninggalkan tanah air menuju Mekkah, segala atribut keduniaan telah mereka tinggalkan yang berupa pakaian kedinasan, bintang kehormatan, gelar kesarjanaan dan lain sebagainya.

Di sana tak ada lagi diskripsi kerena perbedaan golongan, jenis, pangkat, suku ataupun status sosial. Yang ada hanyalah pertunjukan secara komunal kebersamaan dan yang memegang peranan dalam pertunjukan ini adalah masing-masing pelaksana ibadah haji tersebut.

Setiap orang diantara mereka dipandang sama. Suasana klimaks dan puncak pelaksanaan ritual dan seremonial ibadah haji ini, tanggal 9 Dzul-Hijjah, ketika mereka melakukan wukuf di padang Arafah. Rasulullah s.a.w.menegaskan dalam sabdanya : “(Ibadah) haji ini adalah wukuf di Arafah”

Suasana klimaks selanjutnya ialah pada tanggal 10 hingga 13 Dzul-Hijjah, yakni ketika mereka mabit di Muzdalifah, melontar jumrah di Mina, dan melaksanakan thawaf ifhadah dan sa’I di Masjidil Haram di Mekkah.

Pakaian saat wukuf di Arafah dan melempar jumrah Aqabah di Mina, hanyalah kain ihram, yakni dua helai kain putih yang tak berjahit yang satu helai diselendangkan di bahu sebelah kiri, dan yang satu lagi dililitkan dipinggang sebagai sarung.

Kenapa pakaian yang mereka bawa dari tanah air diganti dan dilepas? Karena pada lazimnya, pakaian mewarnai watak manusia. Pakaian dapat melambangkan pola, pangkat, status dan perbedaan tertentu. Pakaian telah menciptakan batas palsu yang menyebabkan timbulnya perbedaan dan perpecahan.

Dari perpecahan ini biasanya timbul dan lahirlah diskriminasi, selanjutnya muncul konsep aku bukan lagi kita. Aku dipergunakan dalam konteks seperti suku-ku, golongan-ku, kedudukan-ku, keluarga-ku, kelompok-ku. Aku berbeda dengan kamu, aku lebih super dari kamu, aku lebih hebat dari kamu. Semuanya adalah aku sebagai individu yang sombong, congkak, takabur, adigang-adigung-adiguna, bukan lagi aku sebagai manusia.

Dalam konteks inilah, maka setiap pelaku ibadah haji ini, sewaktu melaksanakan prosesi haji harus melepaskan pakaian kotor mereka, yakni pakaian kesombongan, pakaian kekejaman, pakaian penindasan, pakaian penipuan, pakaiankelicikan dan pakaian perbudakan, yang kesemuanya melambangkan watak dan karakter mereka.

Dan kini yang harus mereka pakai hanyalah kain ihram, berwarna putih yang melambangkan kesucian dalam rangka melanjutkan perjalanan menuju Allah, mencari makna hidup untuk menjadi manusia seutuhnya. (FatchurR; bahan dari H. Abdullah Faqih; http://centrin21.tripod.com/)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: