TAKUT YG PRODUKTIF-1

Bismillahirrohmanirrohim
Perasaan takut adalah sebuah hal yang manusiawi, tapi bagaimana mengelolanya agar menjadi lebih bertanggung jawab ? Keberanian sangat diperlukan dalam hidup ini untuk memudahkan tercapainya maksud dan tujuan yang ingin kita capai.

Seorang ulama tunanetra ketika disuguhi hidangan ayam panggang berujar, “Seandainya kamu seekor elang tidak mungkin diperlakukan orang seperti ini” . Artinya jika seseorang memiliki keberanian, tidak mudah diperlakukan seenaknya oleh orang yang ingin berbuat dan bertindak terhadap dirinya.

Inilah sebagian manfaat keberanian itu. Namun disisi lain rasa takut bukan dalam konotasi pengecut juga diperlukan. Pengertian takut jika melakukan pelanggaran terhadap norma dan penggarisan yang telah di tetapkan oleh Allah.

Sebagai contoh dapat kita kemukakan perjalanan kepemimpinan Umar Ibnu Khottab (UIK). Dia terkenal seorang yang sangat pemberani. Semasa sebelum Islam, oleh orang Arab dikenal dengan sebutan “Si kidal yang pemberani”.

Selalu siap menantang jago-jago yang datang untuk bertarung di Pasar Ukasy dan selalu menang. Namun setelah masa Islam dan menjadi Khalifah dia termasuk orang yang sangat penakut. Takut terhadap pertanggung jawaban kepemimpinannya di hari kemudian.

Tetapi tak dapat disangkal bahwa buah dari rasa takut yang dimiliki (UIK) ini dapat membuahkan hasil yang sulit dicari tandingannya sepanjang sejarah kepemimpinan dalam Islam. Rasa takut seperti ini dapat digolongkan sebagai rasa takut yang produktif. Bukan rasa takut yang mematikan.

HASIL DARI RASA TAKUT
Berhubungan dengan kepemimpinan (UIK), sebagai manifestasi rasa tanggung jawab dalam memimpin dan rasa takutnya kepada Allah, hampir tiap malam dia ngeluyur ke tengah kampung, keluar masuk lorong melakukan check on the spot ingin mengetahui langsung yang terjadi pada rakyatnya.

Beliau berharap dapat mengetahui jika ada yang : Kelaparan; sakit atau kena musibah. Ketika berhenti sejenak disebuah rumah kecil milik seorang janda miskin dia mendengar sebuah dialog antara ibu dengan anak prempuanya.

Sang ibu menyuruh anaknya mencampur susu yang akan dijual besok dengan air karena sedikit sekali hasil perahan yang diperoleh siangnya. Menurut sang ibu kalau tidak dicmpur bakal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan makan untuk hari itu.

Sang anak gadis tidak setuju dengan pendapat orang tuanya dengan alasan, Khalifah melarang keras kita berbuat demikian. Sang ibu mengemukakan alasan bahwa, ” Kan Khalifah tidak juga mengetahui perbuatan  ini”.

Sang anak dengan penuh keseriusan mencoba meyakinkan ortunya bahwa, “Khalifah Umar memang tidak mengetahui tapi Allah pasti mengetahuinya. Saya minta dengan sangat jangan sampai ibu berbuat demikian”.

Peristiwa itu terjadi menjelang subuh. (UIK) menuju mesjid sambil menangis haru. Usai shalat Subuh anaknya yang bernama Ashim diperintahkan menyelidiki rumah orang tua miskin yang mempunyai seorang gadis itu.

Ashim kembali menceritakan sesuatu tentang keluarga itu, (UIK) memerintahkan anaknya yang berkeinginan untuk nikah agar memilih gadis miskin tapi suci itu. Mudah-mudahan dari hasil pernikahan itu, kata (UIK), lahir seorang pemimpin Arab.

Ternyata memang terbukti do’a dan harapan itu. Dari hasil penikahan itu lahirlah perempuan yang bernama Laila akhirnya dinikahi Abdul Aziz bin Marwan. Dari hasil pernikahan ini lahirlah Umar bin Abdul Aziz yang kelak menjadi khalifah mewarisi kepemimpinan kakeknya, (UIK).

Umar bin Abdul Aziz dikenal sangat berwibawa dan jujur dan adil didalam menjalankan mekanisme pemerintahannya. Digambarkan sebagai seorang yang dikepalanya terdapat akal bijak, didadanya terdapat hati pahlawan, dimulutnya terdapat lidah sastrawan.

Kelak dia menguasai negeri Maroko, Aljazair, Tunisia, Tripoli, Mesir, Hijaz, Najed, Yaman, Suriah, Palestina, Yordania, Libanon, Iraq, Armenia, Afghanistan, Bukhar sampai Samarkand.  Kendati dia tetap tinggal di sebuah rumah kecil yang tidak lebih bagus dari rumah penduduk pada umumnya.

Sehingga utusan negara lain yang ingin menemuinya pusing mencari rumahnya, karena diluar bayangannya, rumahnya sejelek itu.  Ini adalah buah dari rasa takut yang dimiliki oleh perempuan miskin disudut kota yang menarik hati Khalaifah (UIK) untuk menikahkan dengan putranya.

Lalu melahirkan seorang Laila yang tumbuh dalam iman dan taqwa kepada Allah. Gadis suci dan cantik itu kemudian dipersunting oleh seorang yang tepandang di Madinah karena iman dan taqwanya pula, Abdul Aziz bin Marwan. Bersambung
(FatchurR; bahan dari Mansur Salbu; http://immasjid.com/?pilih=lihat&id=823)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: