MASJID MUHAMAD CHENG HO


Bismillahirrohmanirrohim
Sebuah masjid unik khas Tionghoa berdiri di Surabaya. Berusia lima tahun, makin banyak kiprah yang diberikan rumah ibadah ini untuk syiar Islam di Indonesia. Ia sekaligus menjadi bukti bahwa memeluk Islam bagi seorang Tionghoa adalah sesuatu yang lumrah.

Matahari berpendar di langit Surabaya. Sinarnya yang menyengat serasa membakar kota. Siang itu, Jumat, cuaca memang sangat panas, seakan membuat warga kota terbesar kedua setelah Jakarta ini enggan beranjak ke luar ruangan.

Bagi setiap muslim, ada kewajiban di siang itu : melaksanakan shalat Jumat. Beberapa orang tampak melangkahkan kakinya ke masjid, sebagian lagi sudah memadatinya. Termasuk warga dan karyawan di sekitar Masjid Muhammad Cheng Hoo (MMCH)  Indonesi yang terletak di Jalan Gading Surabaya.

Nama jalan ini mungkin kurang familiar. Namun untuk mencari lokasi masjid itu tidaklah sulit. Ia berada di belakang komplek TMP Kusuma Bangsa, yang berseberangan dengan lokasi rekreasi Taman Remaja Surabaya.

Sehari sebelumnya, delapan tenda yang dirangkai menjadi satu telah terpasang di halaman masjid. Tenda-tenda itu dipersiapkan untuk menampung jamaah shalat Jumat yang meluber sampai ke halaman, dan biasanya baru dikemasi Jumat petang.

Tertutup tenda, masjid unik ini hanya terlihat bagian atasnya, sebuah pagoda berlapis tiga yang biasa terdapat di bagian atas kelenteng, tempat ibadah umat Kong Hu Cu. Namun yang membedakan, di atas pagoda MMCH ini terpasang lafadz Allah, seperti lazim ditemui di kubah masjid.

Satu per satu jamaah memenuhi masjid, lalu halaman luar di bawah tenda. Total sekitar 1.500an. Tak seperti nama dan bentuk masjid yang khas Tiongkok, jamaah di masjid ini tak semuanya bersuku China. Bahkan jamaah shalat dari suku Jawa tampak mendominasi.

Khatib jumat hari itu adalah Ahmad Hariyono, seorang ustadz yang bernama Tiong Hoa Wang Jin Shui. Ia salah satu pengurus takmir MMCH dan pengisi acara dzikir yang diselenggarakan tiga kali dalam sebulan di masjid itu.

Dalam khutbahnya, ustadz muda ini menyampaikan tiga pesan Rasulullah untuk umat Islam. Pertama, agar seorang muslim selalu bertakwa di manapun ia berada. Kedua, lakukan kebaikan untuk menghapus kesalahan yang dilakukan sebelumnya. Ketiga, pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik.

Bulan Mei itu, MMCH genap berusia 5 tahun. Pembangunan mulai 15/10/2001 dan diresmikan pada 28/05/2003. Penggagasnya : HMY Bambang Sujanto, alias Liu Min Yuan. Masjid unik ini dikelola Persatuan Iman Tauhid Islam/Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Korwil Jatim dan Yayasan Haji MCH Indonesia.

Ihwal penamaan masjd ini, diambil dari laksamana muslim yang menyiarkan Islam di Indonesia 600 tahun lalu, MCH. Ia adalah utusan Raja Dinasti Ming yang menjalani kunjungan ke Asia sebagai duta perdamaian.

Sebagai seorang bahariawan dan laksamana, Cheng Hoo berhasil mengelilingi dunia selama 7X berturut-turut. Ia menjalin hubungan dagang dengan negara yang ia kunjungi, termasuk dengan Kerajaan Majapahit di Nusantara.

Untuk mempererat hubungan dengan kerajaan ini, diberikanlah Putri Campa untuk dipersunting Raja Majapahit. Keturunan Putri Campa pertama adalah Raden Patah, kemudian Sunan Ampel dan Sunan Giri, yang dikenal di pulau Jawa termasuk dalam 9 sunan atau Walisongo.

Dalam perbincangan dengan al-Mujtama’ di kantor takmir, Ahmad Hariyono menjelaskan bahwa Cheng Hoo adalah Tionghoa bermarga Ma, berasal dari kata Muhammad. “Makanya yayasan ini pun bernama MCH. Ortunya tokoh muslim, seorang haji. Dalam bahasa Tionghoa disebut hacce,” ujar pria kelahiran Batu Malang, 05/01/1973 ini.

MMCHI dinobatkan sebagai masjid pertama di Indonesia yang bernama muslim Tionghoa, dengan bangunan khas Tiongkok. “Masjid ini mendapat penghargaan MURI sebagai masjid pertama di dunia yang bernama Cheng Hoo dan sebagai masjid berarsitek khas budaya Tionghoa,” terang Hariyono.

Rancangan awal masjid yang menampung 200an jamaah ini terilhami dari bentuk Masjid Niu Jie di Beijing yang dibangun tahun 966 M. Kemudian pengembangan disain arsitekturnya dilakukan oleh Ir Aziz Johan, anggota PITI Bojonegoro, dengan didukung oleh beberapa anggota tim teknis.

Biaya awal pembangunan sebesar 500 juta yang didapat dari hasil penjualan Juz Amma dalam 3 bahasa, yakni Arab, Indonesia, dan Inggris. Sisanya didapat dari sumbangsih masyarakat. Sampai selesai, pembangunan masjid ini menelan biaya Rp 3.300.000.000.

Bangunan masjid berdiri diatas lahan 3.070 m2, didominasi warna merah, hijau, dan kuning. Gabungan unsur Tionghoa, Arab, dan Jawa menjadi ciri masjid yang berdiri di belakang markas PITI Jatim. Namun dari sekian unsur itu, budaya Tionghoa terlihat paling mendominasi. Mulai dari pagoda di bagian atas, hingga bangunan utama masjid.

Perpaduan dari berbagai budaya akan terlihat jelas bila diamati secara seksama. Misalnya, selain lafadz Allah di bagian atas, pagoda ini juga dikelilingi lafdzul jalalah dan 20 sifat wajib Allah. Dua jendela bulat di bagian depan, yang pada bangunan klenteng biasanya bergambar naga, di masjid ini berisi kaligrafi basmalah. Sedang unsur budaya lokal, diwakili oleh ukiran di mihrab, mimbar, dan bedug yang ada di sisi kanan masjid. Di dekat bedug ini, terdapat relief MCH dan armada kapal yang digunakannya mengarungi Samudera Hindia.

Hariyono menjelaskan, keseluruhan masjid ini berukuran 21 X 11m, dengan bangunan utama berukuran 11 X 9m. “Setiap ukuran memiliki arti sendiri. Angka sebelas menunjukkan bahwa ka’bah ketika pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim ‘as memiliki panjang dan lebar 11m.

Sedang lebar 9m menunjukkan jumlah Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa, dan sebagiannya adalah keturunan Tionghoa. Bila angka itu dijumlah, akan muncul hasil 99, jumlah Asmaul Husna,” tutur putra dari Bing Slamet atau Ong Giok Bing ini.

Bagian atas bangunan utama masjid ini berbentuk segi-8, atau dalam bahasa Tiongkok disebut pat kwa. Angka 8, kata Hariyono, dalam bahasa Tionghoa disebut fat yang berarti keberuntungan dan kejayaan.

Ayah 11 anak ini menerangkan, angka 8 dalam Islam juga memiliki makna. Rasul pernah dikejar kaum Quraisy, kemudian masuk gua Tsur yang tertutup sarang laba-laba berbentuk persegi delapan. Dengan bantuan Allah, Rasul dapat memasuki gua Tsur tanpa harus merusak rumah laba-laba itu.

Allah memberikan perlindungan untuk dapat melalui sarang itu dengan damai, tanpa merusak dan mengganggu makhluk hidup lainnya. “Ini menunjukkan bahwa Islam yang dibawa Rasul adalah agama yang cinta damai,” simpul Hariyono.

Sejak dibangun, masjid ini tidak dikhususkan untuk etnis Tionghoa. Motonya adalah di atas dan untuk semua golongan. “Masjid ini untuk semua umat, NU, Muhammaddiyah, Tionghoa, dan lainnya. Khatib jumat di masjid ini dari berbagai kalangan. Semua umat Islam yang ingin melaksanakan aktifitasnya di sini, silakan,” jelas Hariyono.

Fasilitas MMCH antara lain Taman Kanak-Kanak (TK), lapangan OR, kantor, kelas kursus Bahasa Mandarin, kantin, pengobatan akupuntur, dan jaringan wifi di seluruh lokasi itu. Berbagai kegiatan dilaksanakan di masjid yang kerap dikunjungi tamu dari luar negeri, seperti RRT dan Inggris.

Selain shalat wajib lima waktu, diselenggarakan pengajian rutin setiap Ahad pagi, dzikir dan doa, plus kajian tafsir tiga kali setiap bulan. Masjid ini sering digunakan untuk acara akad nikah, dan resepsi pernikahan digelar di halaman masjid, dengan latar belakang keindahan bangunan masjid.

Rupanya, paduan budaya dan rumah ibadah yang indah ini punya arti tersendiri bagi muslim Tionghoa. Ia membuktikan bahwa orang China masuk Islam bukanlah hal aneh, karena 600 tahun lalu, terdapat seorang laksamana beragama Islam bernama MCH. Ia turut mensyiarkan Islam di Nusantara. MMCH  ingin mengabadikan semangat itu.

“Tiap bulan minimal empat orang keturunan Tionghoa, melakukan pengikraran atau mengucapkan dua kalimah syahadat di masjid ini, sebagai tanda ia masuk Islam,” sebut Hariyono bangga. (FatchurR; bahan dari http://www.pejuangislam.com)

Tag:

Satu Tanggapan to “MASJID MUHAMAD CHENG HO”

  1. Pipit Says:

    Aku belum ke sana pakde, padahal deket

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: