SEJARAH IEDUL FITRI

Bismillahirrohmanirrohim
Umumnya kita belum mengetahui kapan, bagaimana merayakan ‘Id dan tatacaranya pada zaman Rasulullah. Marilah kita awali arti kata ‘id. ‘Aada – ya’uudu – ‘uudan artinya “kembali ke asal dan balik ke semula, datang berkali-kali”. Berkali-kali datang dan kembali dikatakan sebagai ‘id.

Hari itu merupakan pengabulan taubat setelah pengorbanan di bulan Ramadhan. Firman Tuhan, “Ibadah kalian terkabul, pengorbanan kalian telah diterima. Allah Yang Mahasuci telah menganugerahkan kepada kalian kehidupan baru nan suci.”

Dalam hari kegembiraan yang dirayakan ini dinamakan ‘id. Dan di dalamnya terkandung doa, “Semoga hari ini menghampiri kita berulangkali dan berkali-kali pula kita dapat berkumpul dengan kegembiraan dalam hari yang seperti itu”.

‘Id Perdana
Ramadhan pertama dilaksanakan tahun ke-2 Hijrah. Pada bulan itu sedang terjadi Perang Badar, yang beberapa hari kemudian tiba hari ‘Id dan orang-orang Islam telah merayakan ‘Id pertama setelah perang selesai selagi luka akibat perang belum pulih sepenuhnya.

Rasulullah diriwayatkan, keletihan masih membekas, yang karenanya beliau bersandar pada Hadhrat Bilal RA dan pada saat bersandar itulah beliau menyampaikan khutbah. Inilah ‘Id yang beberapa hari sebelumnya beliau SAW telah mengumumkan Sedekah (Zakat) Fitrah disamping mewajibkannya.

Beliau SAW bersabda bahwa Fithrah ‘Id telah diwajibkan atas seluruh sahabat yakni pada waktu itu telah dikumpulkan Fitrah dari orang Islam dan sudah terkumpul sebelum tiba hari ‘Id lalu dibagikan kepada fakir-miskin pada hari ‘Id atau sesudahnya.

Hafizh Ibnu Katsir mengakuinya dan menerangkan bahwa pada ‘Id pertama, mula pertama Rasulullah pergi menuju suatu tanah lapang dan di sana merayakan ‘Id. Setelah itu semua perayaan ‘Id dilakukan dengan berkumpul di lapangan terbuka untuk melaksanakan Shalat ‘Id, bukan dalam masjid.

Satu hikmah yang melatar-belakangi, yaitu ‘Id merupakan berkumpulnya orang dari berbagai pelosok yang lebih luas yang jangkauannya lebih luas dalam satu tempat dan satu sama lain saling gembira. Karena itu lazimnya masjid biasa akan menjadi kecil dan Rasulullah dengan latar belakang ini telah mengerjakan Shalat ‘Id di lapangan terbuka.

Sebagai batas pemisah, di hadapan beliau SAW ditancapkan tombak dan tombak itulah yang telah dihadiahkan oleh Raja Najasi kepada Hadhrat Zubair RA. Sesudah itu cara inilah yang menjadi kebiasaan.

Bila Rasulullah hadir mengimami Shalat ‘Id selalu dipasang batas pemisah yang mengarah ke kiblat agar apabila ada yang lewat tidak merusak kekhusu’an shalat. Biasanya batas pemisah yang digunakan tombak atau tongkat dan di masa kemudian hal ini menjadi kebiasaan yang berlanjut. Ikuti terus lanjutan artikel ini pada seri ke-2 (FatchurR; bahan dari http://dildaar80.wordpress.com/)

Tag:

2 Tanggapan to “SEJARAH IEDUL FITRI”

  1. MENONE Says:

    waaaaaaaahhh mantap nich artikelnya……..salam

  2. karya cipta agung Says:

    Terima kasih kunjungan dan komentarnya. Salam balik ya. FR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: