ZAKAT-PENDAYAGUNAANNYA-6

Bismillahirrohmanirrohim.

Mustahiq zakat (yang berhak menerima zakat harta benda-zakat maal) ada delapan golongan. Tujuh diantaranya : Fakir, miskin, ‘amil (petugas zakat), mualaf (yang baru masuk Islam), ghorim (yang berhutang), yang berjihad di jalan Allah (fi sabilillah), dan ibnu sabil (yang dalam perjalanan). Tetapi yang mesti didahulukan adalah fakir dan miskin. Fakir didefinisikan : Orang yang tak punya apa-apa, tidak bekerja. Sementara orang miskin adalah yang bisa mencukupi kebutuhan hidup diri dan keluarganya tapi serba berkekurangan. Umumnya zakat yang diberikan kepada mereka bersifat konsumtif, yaitu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ini tidak membantu dalam jangka panjang, karena pemberian itu segera habis dan mereka akan kembali hidup sebagai fakit atau miskin. Banyak pendapat bahwa zakat yang disalurkan kepada 2 golongan ini dapat bersifat “produktif”, yaitu untuk menambah atau sebagai modal usaha mereka. Penyaluran zakat secara produktif ini pernah terjadi di zaman Rasulullah SAW. Dikemukakan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Salim Bin Abdillah Bin Umar dari ayahnya, bahwa Rasulullah telah memberikan zakat kepadanya lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi. Disyaratkan yang berhak memberikat zakat produktif adalah yang mampu melakukan pembinaan dan pendampingan kepada para mustahiq agar kegiatan usahanya dapat berjalan baik. Di samping membinaan dan pendampingan dalam kegiatan usaha, juga membina rohani dan intelektual keagamaannya agar semakin meningkat kualitas keislamanannya. Syekh Yusuf al-Qardhawi, dalam bukunya yang fenomenal, ”Fiqh Zakat”, menyatakan : Diperbolehkan membangun pabrik/perusahaan dari uang zakat, lalu kepemilikan dan labanya diperuntukkan bagi kepentingan fakir miskin, sehingga terpenuhi kebutuhan hidupnya sepanjang masa. Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyyah (pembahasan masalah keagamaan penting dalam Muktamar ke-28 NU di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogya, pada 25-28/11/1989 memberikan arahan bahwa dua hal di atas diperbolehkan dengan maksud untuk meningkatkan kehidupan ekonomi para mustahiq zakat. Namun, ada persyaratan penting bahwa para calon mustahiq itu sendiri sebelumnya harus mengetahui bahwa harta zakat yang sedianya mereka terima akan disalurkan secara produktif atau didayagunakan dan mereka memberi izin atas penyaluran zakat dengan cara seperti itu. Pengambilan dalil antara lain dari Al-Majmu’ ‘ala Syarhil Muhadzdzab, juz VI, hlm. 178. Bahwa tidak boleh bagi petugas penarik zakat dan imam/penguasa untuk mengelola harta-harta zakat yang mereka peroleh kecuali para calon penerima zakat telah setuju atau memberikan kuasa atas pengelolaan zakat itu untuk mereka. Para ulama sangat berhati-hati agar harta zakat itu diketahui dan sampai kepada mustahiqnya. Para mustahiq zakat harus tentukan terlebih dahulu dan kemudian ada kesepakatan antara pengelola zakat dengan mereka, baru kemudian zakat bisa disalurkan secara produktif atau didayagunakan untuk kepentingan para mustahiqnya.  (A. Khoirul Anam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: