NGALAP BERKAH YG KELIRU

Bismillahirrohmanirrohim
Ngalap berkah yang keliru artinya tidak ada dasar pegangan dalil yang kuat di dalamnya. Contoh beberapa hal yang termasuk ngalap berkah keliru :
(1)    Tabarruk dengan Rasul  setelah beliau wafat. Di antara yang terlarang adalah tabaruk dengan kubur beliau. Bentuknya : Meminta do’a dan syafa’at dari Rasulullah, di sisi kuburnya. Misal seseorang meminta, “Wahai Rasul, ampunilah aku” atau “Wahai rasul, berdo’alah kepada Allah agar mengampuniku dan menunjuki jalan yang lurus”.

Perbuatan ini termasuk kesyirikan karena di dalamnya terdapat bentuk permintaan yang hanya Allah saja yang bisa mengabulkannya. Juga termasuk keliru dengan mendatangi kubur Nabi dan mengambil berkah dari kuburnya dengan mencium atau mengusap-usap kubur tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Para ulama kaum muslimin sepakat bahwa siapa yang menziarahi kubur Nabi atau menziarahi kubur para nabi, orang sholih lainnya, dan ahlul bait, ia tidak dianjurkan sama sekali untuk mengusap atau mencium kubur”.

(2)    Tabarruk dengan orang sholih setelah wafatnya. Jika terhadap Nabi tidak diperkenankan, maka lebih-lebih dengan kubur orang sholih, kubur para wali, kubur kyai, kubur para habib atau kubur lainnya.

Tidak diperkenankan pula seseorang meminta dari orang sholih yang telah mati dengan do’a “wahai pak kyai, sembuhkanlah penyakitku ini”, “wahai Habib, mudahkanlah urusanku untuk terlepas dari lilitan hutang”, “wahai wali, lancarkanlah bisnisku”.

Permintaan seperti ini hanya boleh ditujukan pada Allah yang bisa mengabulkan. Jika do’a itu ditujukan pada selain Allah, berarti telah terjatuh pada kesyirikan. Begitu pula jika tawassul, yaitu meminta orang sholih yang sudah tiada untuk berdo’a kepada Allah agar mendo’akan dirinya.

(3)    Tabarruk dengan pohon, batu, benda lain yang tidak logis seperti dengan kotoran sapi (Kebo Kyai Slamet). Ngalap berkah dengan benda semacam ini, termasuk hal yang terlarang, suatu bid’ah yang tercela dan sebab  terjadinya kesyirikan.

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Adapun pohon, bebatuan dan benda lainnya, yang dinama dijadikan tabarruk atau diagungkan dengan shalat di sisinya, atau semacam itu, maka semua itu adalah bid’ah yang mungkar dan perbuatan ahli jahiliyah serta sebab timbulnya kesyirikan.”

Perbuatan itu termasuk perbuatan ghuluw terhadap orang sholih dan pada suatu benda. Sikap yang benar untuk meraih keberkahan dari Nabi setelah beliau wafat adalah dengan ittiba’ atau mengikuti setiap tuntunan beliau, sedangkan kepada orang sholih adalah dengan mengikuti ajaran kebaikan mereka dan mewarisi setiap ilmu mereka yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Inilah tabarruk yang benar.

Banyak jalan meraih keberkahan / ngalap berkah yang dibenarkan. Karena itu, sepantasnya kita melakukan tanpa mencari berkah lewat jalan yang keliru, bid’ah atau bernilai kesyirikan. Carilah keberkahan dengan beriman dengan bertakwa pada Allah.  (FatchurR; dari berbagai sumber)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: