AWAL TURUNNYA WAHYU

Bismillahirrohmanirrohim.
Dari Jabir bin Abdillah berkata, Rosulullah bersabda ; “Saat aku berjalan tiba-tiba aku mendengar
suara dari awang-awang maka aku mengangkat kepalaku dan menyaksikan malaikat yang datang
kepadaku di goa Hiro’ duduk di Kursi antara langit dan bumi.

Aku bergetar ketakutan lalu aku pulang dan berkata; “Selimutilah aku, selimutilah aku,’ maka Allah menurunkan ayatnya ; ‘Wahai orang yang berselimut, bangunlah berilah peringatan, dan Robbmu
agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa jauhilah, yaitu berhala, kemudian
wahyu turun berangsur-angsur” (HR. Muslim) 1)

TAHANNUTS
Rosulullah bertahannuts (‘Uzlah di goa Hiro’) dengan menyendiri dalam rangka beribadah kepada Allah. Bukan bertapa, yoga dan kontemplasi. Imam Al-Khotoby berkata ; Rosulullah beruzlah agar mencegah diri dan menjauhi perbuatan dosa yang telah menyatu di masyarakat Quraisy saat itu.

Uzlah dimaksudkan agar kondisi hati mampu berdzikir dengan khusyuk, mudah bertafakkur, membersihkan diri dari ambisi hawa nafsu.

Teladan rosulullah ini sebagai pelajaran kepada umatnya agar mengerjakan ibadah dengan khusyuk,
selalu bertafakkur, tidak mengikuti bermacam maksiat yang ada di masyarakat. Meskipun
tidak harus pergi ke goa dan menjauhi masyarakat.

TURUNNYA AL-‘ALAQ 1 – 5
Rosulullah didekap malaikat Jibril 3X dengan sangat erat saat ber-uzlah dan diperintahkan : ‘Iqro’ (bacalah) namun nabi sebagai orang yang ummy (tidak bisa membaca dan menulis) berkata; ‘maa Ana biqori’ (aku tidak bisa membaca). Lalu dikatakan; bacalah.

“Bacalah dengan nama Robb-mu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari segumpal
darah. Bacalah dan Robb-mu agungkanlah. Yang mengajari manusia dengan perantara qolam. Yang
mengajari manusia hal-hal yang tidak diketahuinya” (QS. Al-‘Alaq: 1-5)

Para ulama’ berkata; faedah dekapan malaikat, agar nabi tak berpaling dan agar memfokuskan perhatiannya kepada wahyu yang hendak disampaikan. Dan hal ini dapat diambil pelajaran kepada para pengajar agar berhati-hati dalam memberikan arahan, agar umat yang dibimbing atau muridnya bisa menerima pelajaran dengan baik. Meski tidak harus dengan cara dekapan.
Hikmah nabi sebagai manusia yang ummy adalah agar kelak originalitas Al-Qur’an sebagai wahyu
tidak diragukan, agar tetap terjaga dan tidak dipengaruhi oleh perasaan atau pemikiran filsafat yang kacau. Meski demikian yang mengajari nabi adalah guru yang kuat dan dahsyat, yakni malaikat Jibril.

Rosulullah memang benar ‘ummy’, tetapi ummy bukan bodoh. Beliau imam Ulul ‘Azmy bagi seluruh nabi dan rosul, orang yang tercerdas (fathonah) untuk seluruh masa, sebagai guru paling cerdas bagi umatnya, sebagai suami dan ayah terbaik untuk keluarganya, dan super manager bagi bawahannya, komandan terhebat dalam 400 lebih peperangan,

Maharaja paling melindungi bagi kalangan lemah, orang yang terpercaya bagi semua stakeholdernya. Dan seterusnya. Dengan demikian mungkinkah seorang nabi bodoh? (Fatchur R; bahan dari berbagai sumber)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: