WALI NIKAH


Bismillahirrohmanirrohim, Kata “wali” dari bahasa Arab, yaitu Al-Wali berarti pecinta, saudara, atau penolong. Menurut istilah, “wali nikah” berarti orang yang menurut hukum (agama, adat) diserahi mengurus kewajiban anak yatim, sebelum anak itu dewasa, pihak yang mewakilkan pengantin perempuan waktu menikah (melakukan janji nikah dengan pengantin pria).

Sedangkan Abdurrahman Al Jaziry mengatakan tentang wali dalam Al Fiqh ‘ala Mazaahib Al Arba’ah : “Wali dalam nikah adalah yang padanya terletak sahnya akad nikah, maka tidak sah nikahnya tanpa adanya (wali)”.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa wali dalam pernikahan adalah orang yang melakukan akad nikah mewakili pihak mempelai wanita, karena wali merupakan syarat sah nikah, dan akad nikah yang dilakukan tanpa wali dinyatakan tidak sah.

Seorang wali haruslah memenuhi syarat-syarat :
Perkawinan adalah amanah Allah swt. Untuk menyempurnakannya diperlukan lima rukun yaitu : Calon suami; Calon isteri; Wali; Dua orang saksi dan Sighah ijab qabul. Jika kekurangan salah satu rukun itu maka perkahwinan itu tidak sah.

Syarat-syarat sah menjadi wali menurut kitab Kifayatul Akhyar, sebuah kitab fiqih yang digunakan  dalam mazhab Syafi’i, ialah :  Islam; Baligh (minimal 15 tahun);  Berakal; Lelaki; Adil dan Merdeka. Sedangkan urutan yang boleh menjadi  Wali : Ayah kandung; Kakek dari ayah; Saudara lelaki seibu-seayah; Saudara lelaki seayah dan Anak saudara lelaki seibu-seayah.

Daftar urutan wali di atas tidak boleh dilangkahi atau diacak-acak. Sehingga bila ayah kandung masih hidup, maka tidak boleh hak kewaliannya itu diambil alih oleh wali pada nomor urut berikutnya. Kecuali bila pihak yang bersangkutan memberi izin dan haknya itu kepada mereka.

Penting untuk diketahui bahwa seorang wali berhak mewakilkan hak perwaliannya itu kepada orang lain, meski tidak termasuk dalam daftar para wali. Hal itu biasa sering dilakukan di tengah masyarakat dengan meminta kepada tokoh ulama setempat untuk menjadi wakil dari wali yang syah. Dan untuk itu harus ada akad antara wali dan orang yang mewakilkan.

Dalam kondisi seorang ayah kandung tidak bisa hadir dalam sebuah akad nikah, maka dia bisa mewakilkan hak perwaliannya itu kepada orang lain yang dipercayainya, meski bukan termasuk urutan dalam daftar orang yang berhak menjadi wali.

Sehingga bila akad nikah akan dilangsungkan di luar negeri dan semua pihak sudah ada kecuali wali, karena dia tinggal jauh dan kondisinya tidak memungkinkan, maka dia boleh mewakilkan hak perwaliannya kepada orang yang sama tinggal di luar negeri itu untuk menikahkan anak gadisnya.

Namun hak perwalian itu tidak boleh dirampas atau diambil begitu saja tanpa izin dari wali yang sesungguhnya. Bila hal itu dilakukan, maka pernikahan itu tidak syah dan harus dipisahkan saat itu juga. (FR bahan dari berbagai sumber)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: