RAMADHAN YG KHAS


Tidak terasa bulan Ramadhan datang kembali. Seperti  biasa kaum muslimin bersemangat menyambutnya. Bahkan “program-program Ramadhan” sudah disusun jauh-jauh hari oleh perorangan maupun oleh instansi-instansi, tidak ketinggalan terutama dikalangan industri.

Masjid-musholla, misalnya, didandani laiknya kedatangan tamu agung. Spanduk berbentangan di jalan-jalan, mengelukan kehadiran Ramadhan, “Marhaban ya Ramadhan ; Marhaban ya Ramadhan !”. Ormas, orsospol, instansi, media masa , mengatur jadwal dan acara kegiatan khusus sereligius mungkin.

Daftar kegiatan 30 hari dicetak rapi dan dibagikan kepada para pemeluknya. Pesantren kilat bermunculan dengan berbagai tawaran program keagamaan. Setasiun TV berlomba mengadakan kontrak dengan para artis dan ustadz-ustadz untuk acara khusus Ramadhan.

Kita juga menyaksikan fenomena khas dan merasakan suasana sebagaimana Ramadhan-Ramadhan yang lalu. Makan bersama keluarga waktu buka dan sahur. Hiruk pikuk di masjid-musholla (termasuk musholla kantor) menjelang, pada saat, dan sesudah salat Taraweh.

Teriakan pengeras suara dari berbagai penjuru. Kultum, kuis, dagelan dan hiburan-hiburan lain menyerbu rumah melalui layar kaca TV sejak bangun tidur hingga bangun tidur. Pendek kata jadwal dan acara yang menyibukkan kita di hari Ramadhan seperti sudah siap tersedia, tinggal megikutinya.

Ramadhan pun seperti tidak bisa berbuat lain kecuali mengikutinya. Kita telah memprogram Ramadhan bukan sebaliknya Ramadhan memprogram kita. Kita yang merekayasa “kesucian” Ramadhan bukan Ramadhan yang menyucikan kita.

Tentu saja itu hanyalah gambaran umum. Selalu ada pengecualian pada gejalanya. Pastilah ada hamba beriman yang kukuh bergeming, mencoba tidak terbawa arus. Mereka yang memandang Ramadhan dan puasa sebagai anugerah Allah, setelah sebelas bulan seperti umbar-umbaran, sibuk dengan hal-hal yang sering kali jauh dari kepentingan diri.

Bagi mereka ini, Ramadhan merupakan hadiah Tuhan berupa kesempatan mengevaluasi dan memperbaiki diri sebagai hamba dan khalifahnya. Boleh jadi mereka melihat dengan kritis fenomena umum kaum beragama didalam menyikapi Ramadhan.

Namun mereka sadar bahwa mereka tidak mampu berbuat banyak untuk mengubah arus yang sudah terpolakan. Maka mereka memilih untuk memulai saja dari diri mereka sendiri.n Mereka berpuasa sebagaimana saudara-saudara mereka yang berpuasa. Namun mencoba mencari makna yang lebih dalam dari puasa itu sendiri.

Mereka tidak sekedar mengubah jadwal makan ; apalagi dengan semangat “balas dendam”. Mereka tidak hanya berlatih menahan diri dari nafsu makan dan minum. Tetapi mencoba menelisik gejolak nafsu yang lebih canggih untuk melawannya atau menghindarinya.

Bukankah ada hadis Nabi yang menyebutkan “Inna akhwafa maa atakhawwafu ‘alaa ummatii al-isyaraaku biLlahi; amma innii lastu aquulu ya ‘buduuna syamsan walaa qamaran walaa watsanan walaakin a’maalan lighairiLlahi wasyahwatin khafiyyah.”

(“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku ialah menyekutukan Allah; ketahuilah aku tidak mengatakan mereka akan menyembah matahari, bulan atau berhala ; tapi amal-amal perbuatan yang dilakukan bukan demi Allah dan nafsu yang tersembunyi”).

Mereka merasa bulan Ramadhan ialah kesempatan yang paling baik untuk melakukan perenungan, terutama terhadap amal perbuatan mereka yang bersifat keagamaan.  Apakah amal keagamaan mereka murni demi dan untuk Allah atau jangan-jangan secara halus disusupi kehendak nafsu yang tersembunyi.

Salat dan puasa mereka, misalnya,  apakah murni dipersembahkan kepada Allah sebagaimana ikrar  mereka    “Inna shallatii wanusuki wamahyaaya wamamaatii liLlahi Rabbil ‘aalamiin”, (Sesungguhnya salat dan ibadahku, hidup dan matiku liLlahi Rabbil ‘aalamiin)
Atau masih tersusupi kehendak-kehendak lain. Mengapa dzikir dan bacaan Al Quran mereka mesti melengking-lengking (hingga seringkali mengganggu orang lain), kalau itu semata-mata diperuntukkan Allah Yang Mahadekat ? Dan sebagainya dan seterusnya.

Alhasil; mereka ini, dibulan Ramadhan ini, berusaha seoptimal mungkin berpuasa dari hal-hal selain yang berkaitan dengan dambaan memperoleh ridha Allah. Apakah Anda termasuk mereka ini ? (Sidharta  –  sumber dari : K.H. A Mustofa Bisri, dikutip dari “Membuka Pintu Langit”)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: