DM ANDA KELOMPOK PUASA MANA-(3) ?

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum wr wb.
Untuk memudahkan kita dalam mempertimbangkan penderita DM melaksanakan puasa Ramadan, ada baiknya pasien DM dibedakankan dalam tiga kelompok :
Kelompok 1 : Pasien DM yang kadar gulanya terkontrol dengan perencanaan makanan dan olahraga saja. “Pasien DM dalam kelompok ini dapat – berpuasa tanpa masalah. Tentu tetap memerhatikan pengaturan makan dan aktivitas fisik.

Kelompok 2 : Pasien selain menyeleksi asupan makan; berolahraga, dan perlu obat hipoglikemik oral (OHO) untuk mengontrol DMhnya. “Kelompok ini bisa dibagi atas dua bagian, yaitu kelompok 2a yang merupakan pasien DM yang membutuhkan dosis tunggal dan kecil, misalnya glibenklamid satu kali satu tablet sehari pada pagi hari. Kelompok ini boleh berpuasa dengan menggeser obat pagi ke sore saat berbuka puasa. Pola minum obat diubah dan 1-0-0 menjadi 0-0-1, atau hanya saat buka saja mengonsumsi obat.”

Kelompok 2b adalah yang membutuhkan OHO dengan dosis tinggi dan terbagi, misalnya obatnya pagi 2 tablet dan sore satu tablet. “Kelompok 2b ini bisa berpuasa dengan menggeser obat pagi ke saat berbuka dan obat sore ke saat makan sahur dengan dosis setengahnya.

Apabila biasanya pasien minum obat tiga kali sehari, maka obat pagi dan siang diminum pada saat berbuka dan obat sore digeser saat makan sahur dengan dosis setengahnya. Pola minum obatnya menjadi 1/2-0-1 dan sebelumnya 1-1-1,”.

Kelompok 3 : Pasien yang melakukan perencanaan makan, olahraga, dan kebutuhkan insulin. “Kelompok ini dibagi menjadi 4 golongan yang memiliki risiko masing-masing. Kelompok 3a merupakan pasien yang membutuhkan insulin satu kali sehari, misalnya dengan NPH 20 unit satu kali sehari.

Kelompok ini dengan motivasi yang kuat, pemantauan yang baik, dan harus dengan pengawasan ekstra ketat, khususnya terhadap hipoglikemia, pasien dapat menjalankan ibadah puasa. Suntikan insulin bisa digeser pada saat berbuka puasa.”

Kelompok 3b : Yang membutuhkan insulin dua kali atau lebih sehari. “Misalnya pasien perlu insulin RI tiga kali 12 unit sehari. Kelompok ini tidak dianjurkan berpuasa karena dianggap gula darahnya tidak stabil.”

Sedangkan kelompok 3c yang membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin 1 kali sehari, disarankan boleh berpuasa dengan pengaturan OHO seperti pada kelompok 2 dan suntik insulin saat berbuka puasa. “Sedangkan kelompok 3c yang membutuhkan kombinasi OHO dengan insulin 2 X atau lebih. Kelompok ini tak dianjurkan berpuasa karena gula darahnya tidak stabil.”

Saran pengobatan DM ialah menurunkan kadar gula dalam darah senormal mungkin. “Menurunkan kadar lemak darah dan mencapai berat badan ideal. Bila ini dapat dicapai tentu gejala diabetes akan berkurang dan dapat mencegah komplikasi DM.”

Anjuran berikutnya sebelum berpuasa agar kadar gula darah terkendali dengan baik. DM puasa yang terkendali dengan baik adalah kurang dari 110 mg% (puasa) dan 2 jam sesudah makan kurang dari 160 mg%. Demikian pula pasien dengan komplikasi berat, misalnya gagal ginjal / jantung sebaiknya tidak berpuasa. “Sebab berpuasa bisa memperberat komplikasi yang sudah terjadi.”

Pengendalian DM yang baik diperlukan untuk mencegah komplikasi DM akut dan kronik. “Kita harus selalu menghindarkan kadar gula terlalu tinggi (hiperglikemia) dan terlalu rendah (hipoglikemia), selama bulan Puasa dan pada hari-hari lainnya.”

Hipoglikemia merupakan suatu keadaan yang harus dihindari khususnya pasien usia lanjut karena bisa berakibat fatal. “Hipoglikemia dapat terjadi pada saat berpuasa terutama pada sore hari menjelang berbuka puasa. Bila hal ini terjadi sebaiknya segera membatalkan puasa dengan minum air gula dan dilanjutkan dengan makan.”

Tanda-tanda hipoglikemia antara lain : Gelisah, berkeringat, gemetar, berdebar-debar, kesemutan pada lidah dan bibir, penglihatan ganda, dan bingung. Bila keadaan ini dibiarkan berlanjut, maka dapat terjadi kesadaran menurun dan kejang-kejang.

“Pemantauan kadar glukosa darah dirasakan lebih penting selama puasa Ramadan, terutama untuk menghindari kemungkinan hipoglikemia. Pemantauan ini bisa menggunakan uji strip dengan / tanpa glukometer (pengukur kadar gula),” (Aguk)

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: