GANTIAN DONK

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum wr wb.
“Berat lho” cetusku. Hari ini sobatku satu tim tidak ngantor. Rudi harus beristirahat karena tiphus. Yunus dan Onip cuti, Rofik sedang dinas luar dan Syaiful tugas menemani Bos, padahal ada persiapan tender (lelang) di suatu BUMN yang harus diselesaikan hari ini

Semua dokumen kupersiapkan sesuai persyaratan. Setelah cukup, langkah selanjutnya adalah mengcopy salinannya. Disinilah muncul masalah. Di kantor itu yang biasa memfotocopy, Toni tidak ada. Walhasil dengan penuh percaya diri saya coba untuk mememfoto copi (FC) dokumen yang cukup tebal sendirian, karena pengalaman mengcopy satu dua lembar tidak ada masalah.

“Ada pegawai baru nih…” ledek Sefan, rekan sekantor dari bagian lain. “Yah habis gimana, kalo nggak dikerjakan sendiri siapa lagi dong yang mengerjakan”

“Kenapa tidak suruh Kandi saja ?”. “Dia itu kan office boy dan setahu saya dia nggak bisa FC”
“Tapi kan bisa suruh dia ke tukang FC, biar efisien”. “Kalo cuma FC aja sih gampang kok”

Ternyata, baru 5 lembar saya sudah kerepotan, berbagai masalah timbul dari posisi kertas yang tidak tepat, kertas habis, sampai karena terlalu panik kertas yang dipakai salah ukuran jadi harus diulang.

Begitu cepat rasa percaya diri saya hilang dan yang timbul adalah rasa salut kepada Toni. Karena ia begitu gesit jika mendapat tugas FC, mungkin jika tumpukan dokumen yang saya pegang ditangani olehnya memerlukan 10 menit sedang saya sudah hampir 15 menit belum ada tanda-tanda selesai.

Manusia masing-masing punya kemampuan unik dalam menjalani hidupnya dan satu sama lain saling membutuhkan. Tapi sayangnya terkadang kita kurang mau memahami posisi orang lain. Padahal jika kita berada dalam posisi orang lain belum tentu kita bisa lebih baik dari orang tersebut.

Kita hanya bisa menuntut dari orang yang lebih cepat dan sempurna tanpa mau mengerti bahwa terkadang di dalam prosesnya banyak kendala yang terjadi. Bukannya dibantu tapi malah mengumpat, kesal dan marah. Bukan tidak mungkin jika orang itu adalah bawahan kita lalu kita pecat dia.

Jika kita seorang suami apa salahnya bila ada kesempatan menggantikan posisi istrinya memasak makanan untuk keluarga. Atau jika kita punya pembantu, kenapa tidak mencoba suatu hari meliburkan pembantu dan mengerjakan tugasnya sehingga kita bisa memahami begitu berat tugas sang pembantu. Hayo siapa berani membuktikan bertukar tugas mereka ?. Wassalamualaikum wr wb. FatchurR

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: