MENGASIHI DENGAN DIAM DIAM

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum wr wb.
Saya ditraktir makan mie bakso di kedai terkenal, namun harganya tidak mahal dan rasanya cukup lezat. Kami duduk di depan meja panjang kapasitas sepuluh orang bila mengelilinginya. Meja sudah terisi enam orang, saya, teman saya dan empat orang pengunjung.

Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di dekat kami. Mereka memesan mie dan sedang menunggu. Keluarga muda itu terdiri dari suami istri dan seorang anak yang berusia sekitar lima tahun.

Mereka sangat sederhana. Pakaiannya kusam dan agak berbau. Anaknya kelihatan baru sembuh dari penyakit yang tidak saya ketahui dan sibuk dengan ingusnya. Ibunya mengelap ingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya. Pasangan itu berbahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Kelihatannya ini merupakan perayaan menyambut kesembuhannya.

Saat mie datang keluarga tersebut makan dengan lahap.
Keadaan demikian tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. Bayangkan aja, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium bau badan yang tidak enak.

Tak lama kemudian, keempat pelanggan satu persatu pergi tanpa menghabiskan mienya. Melihat ini ada rasa kepahitan yang terpancar diwajah keluarga muda itu, seperti rasa rendah diri dan terasing melihat sikap saya dan empat pengunjung lainnya.

Keadaan itu tak berlangsung lama, terutama saat melihat teman saya, keceriaan mereka pulih kembali. Teman saya tetap menikmati mie dengan segala kecuekannya. Seolah-olah tidak ada apa-apa disekitarnya.

Saya juga belajar cuek dan menghabiskan sisa mie. Selesai makan sekitar lima belas menit sebelum meninggalkan kedai itu. Saya heran dengan tingkah teman saya yang diluar kebiasaannya. Biasanya ia duduk paling lama lima menit. Sekali lagi saya harus mengikuti kemauan teman saya dengan jengkel.

Ketika keluar, saya merasa lega. Teman saya mengatakan ia sangat terganggu duduk di samping keluarga itu. Ia merasakan rasa bau dan merasa terganggu dengan suara ingus. Ia merasakan tepat seperti yang saya rasakan.

Dia katakan, jika ia meninggalkan keluarga itu saat bergembira, mereka akan merasa terpukul, tidak berharga, terasing dan putus asa. Padahal si suami sedang memberi yang terbaik bagi keluarganya. Mereka bersukacita merayakan kesembuhan anaknya.

Si suami telah mengeluarkan uang yang bagi mereka cukup mahal untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya. Saya terkejut atas sikap teman saya yang luar biasa. Dengan caranya yang khas, bertahan makan mie sampai habis dan menunggu lima belas menit setelah makan, telah memberi semangat baru bagi keluarga itu.

Pertama kali dalam hidup ini, saya menyadari dan menyaksikan bagaimana mengasihi sesama tanpa mengatakan sesuatu benar-benar tidak mustahil. Ini benar-benar keajaiban mengimplementassikan ayat-ayat dalam kitab suci tentang mengasihi sesama dapat diwujudkan.

Cukup hanya dengan meneruskan makan mie sampai habis. Masa bodoh dengan sikap pengunjung lain yang tidak terpuji. Menunggu dan terakhir menahan rasa bau untuk menyempurnakan segalanya telah menunjukkan suatu keajaiban kasih dan dilakukan oleh seorang teman. (Nursyifa F-Disarikan dari email seorang sahabat)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: