BERLATIH KORUPSI KARENA TIDAK DISADARI

Musim kelengkeng telah tiba. Karena saya sangat suka buah tersebut, saya menuju counter buah disuatu hypermarket. Karena sedang musim, maka buah tersebut dijual murah sehingga nyaris tak terlihat karena dipenuhi kerumunan orang. Apalagi keranjang kelengkengnya.

Saya masih bisa menyelinap di antara kerumunan karena tubuh saya mungil. Ternyata di sekeliling saya, beberapa bapak, ibu dan gadis cantik dengan tenang mengupasi kelengkeng itu dan memakannya di tempat.

Seakan buah bulat kecil itu adalah makanan yang disediakan untuk mereka, tanpa peduli pada papan bertuliskan besar-besar “Mohon untuk tidak mencicipi” yang ditancapkan di antara keranjang buah tersebut.

Kulit kelengkeng bertebaran di antara buah yang ada, makin lama makin banyak. Seorang petugas terpaksa bersabar menunggu agak sepi untuk membersihkan sampah ranting dan kulit kelengkeng tanpa berani menegur tindakan ‘para pembeli yang terhormat itu’.

Inilah kebiasaan ‘aneh’ saudara kita. Menyeberang jalan dengan memotong pagar pembatas sudah biasa, padahal di atasnya ada jembatan penyebarangan yang cukup lega dan nyaman dengan kanopinya. Membuang sampah sembarangan juga sudah biasa, karena di kereta, halte dan tempat umum lain tak ada tempat sampah. Masih banyak lho contoh lainnya.

Hal kecil itu dianggap sesuatu yang biasa. Saking biasa dan wajarnya hingga yang melakukannya pun bukan cuma orang miskin yang memanfaatkan kesempatan untuk dapat makan gratis. Bahkan kebanyakan mereka adalah dari kalangan yang sebenarnya sangat tidak berkekurangan.

Tengok pula, berapa banyak ibu-ibu atau nyonya-nyonya belanja sayur di pasar atau pun di tukang sayur yang sering mencicipi berbiji-biji dan minta tambahan tanpa keridoan penjualnya.

Sesungguhnya ini adalah masalah paradigma yang membudaya. Cara pandang yang menganggap kata kenakalan atau korupsi hanya perlu dilabelkan pada hal-hal besar, entah urusannya yang besar atau nilainya yang besar.

Namun kalau sekedar mencicip makanan, mengurangi ongkos bis atau minta tambah ke penjual adalah hal biasa saja. Demikian apa yang dipikirkan oleh sebagian besar masyarakat saudara saudara kita.

Padahal Allah melarang kita memakan dan mengambil sesuatu yang bukan haknya, kecil atau besar nilainya. Sebiji kelengkeng atau seratus perak uang kembalian mesti kita bayarkan. Sebutir anggur atau mengambil duit yang dititipkan nasabah di bank.

Di supermarket lain. Seorang anak SD merengek kepada ibunya untuk makan buah kelengkeng. Ibunya yang sedang memasukkan buah kelengkeng ke kantong plastik di keranjang lain, dengan enteng menjawab, ”Ambil dan makan aja, gak papa.” Katanya sambil terus memasukkan buah kelengkeng ke kantong belanjaannya.

Sang anak pun meraup segenggam kelengkeng dari keranjangnya dengan sembunyi-sembunyi dan memasukkannya ke kantong rok yang dipakainya. Diambilnya satu butir lagi, langsung kupas dan masuk mulut. Saat matanya bertatap pandang dengan saya, dia bergegas menghindar sambil melirik ketakutan.

Seorang anak yang polos bisa merasakan, bahwa apa yang dilakukannya bukanlah tindakan yang tidak benar. Namun ajaran yang diterimanya dari ibunya, bisa jadi akan membuatnya menjadi ”wajar” seperti bapak, ibu dan gadis cantik yang saya ceritakan di awal paragrap suatu hari nanti saat dia beranjak dewasa.

Kecuali kalau kita semua, para orang dewasa, tidak lagi menganggap hal-hal semacam ini sebagai suatu masalah ‘kecil’ dan wajar. Kecuali kalau kita mulai menempatkan sesuatu pada haknya, mulai dari diri sendiri dan hal-hal kecil yang kita lakukan.

Pernahkan kita memeriksa diri sendiri, adakah yang bukan hak kita, namun kita ambil dengan berbagaai alasan ?. Semoga contoh sederhana ini menggugah kita untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri kita masing-masing. (FatchurR-disarikan dari Era Muslim 12/08/08)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: