MENYEROBOT HAK ORANG LAIN YUK !

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum wr wb.

Persoalannya sepele, kemarin ketika naik angkot dari Sayati dan turun di Supermarket Y (sebelum pertigaan pintu Tol) Jalan Kopo, angsulan (kembalian) uangnya seharusnya Rp 4.000,- tetapi aku hanya menerima Rp 3.500,-

Walau sudah kujelaskan asalku naik angkot, namun sopir Angkotnya segera tancap gas. Padahal biasanya aku sering berganti angkot, mereka mengenakan tarif hanya Rp 1.000,-. Jadi hari itu aku kesal bukan main.

Sopir tersebut dengan arogan mengambil uangku yang sebetulnya tidak seberapa Rp 5.00,-, membuatku kesan dan menyerobot hak milikku. Padahal menyangkut hak, kewajiban, kejujuran dan kedisiplinan merupakan sesuatu yang sangat prinsip.

Ketahuilah aku tak suka hakku diganggu. Sebaliknya aku selalu menjaga untuk tidak melanggar hak orang lain. Aku juga tidak suka pada suatu perempatan untuk melaju lurus, ketika lampu lalu lintas menyala hijau, tiba-tiba sebuah mobil menyerobot dari kiri berbelok kekanan didepan mobilku.

Demikian halnya ketika aku ngantri di suatu loket, aku tidak ingin mencoba untuk menyebrobot antrian orang. Aku juga berupaya hanya berjalan kaki menyeberang ketika lampu traffic light sudah merah. Tetapi saat lampu merah, aku  tak suka pada mobil dan motor yang menerobos lampu merah.

Serobot menyerobot dan ulah yang sejenis ternyata banyak kita jumpai pada kehidupan sehari-hari. Lihatlah upaya pedagang dipasar yang ingin meraih untung besar dengan menambah Burax pada tahu, Baso dan sebagainya yang beberapa bulan yang lalu ramai dipergokin petugas.

Dalam berorganisasi banyak kita jumpai pengeluaran uang dengan menaikkan harga barang yang dibeli demi keuntungan pribadi atau menggunakan uang organisasi yang dari segi urgensi dan manfaatnya kurang mengena padahal keuangan organisasi sangat terbatas. Belum lagi pengeluaran yang dikarang karang sebagai pengeluaran

Walau yang demikian tidak merata terjadi dinegeri ini, namun perilaku semacam itu tampak dari yang berukuran kecil hingga ratusan milyar rupiah. Lihatlah walau KPK (Komisi pemberantasan Korupsi) berdiri lebih dari 5 tahun, tetapi hingga 2009, masih banyak koruptor yang ditangkap.

Mereka lupa bahwa segala sesuatu yang diperoleh tanpa hak itu tidak berkah yang dialam kubur akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan Allah. Kelakuan yang membudaya ini berpeluang menjadikan setiap orang menjadi egois dan hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan sendiri.

Sebenarnya kita mampu menghentikan budaya jelek itu dengan berupaya mempertahankan hak kita dari serobotan, dan semua orang berkomitmen serta berupaya untuk tidak menyerobot hak orang lain, dimulai dari diri sendiri dan segera melakukannya. Marilah kita memulainya dari kelompok dan lingkungan yang terkecil, Insya Allah akan berhasil. Wassalamualaikum wr wb. Aguk

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: