BUDAYA TERLAMBAT

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamualaikum wr wb.

Datang terlambat rasanya sudah menjadi budaya atau penyakit akut yang sulit disembuhkan. Terjadi pada : Anak sekolah, mahasiswa, karyawan kantor, undangan diskusi, seminar atau workshop pasti ada yang datang terlambat.

Jika terlambatnya lima hingga sepuluh menit bisa dimaklumi dan dianggap masih dalam batas toleransi. Tapi kalau terlambatnya setengah hingga satu jam tentu sangat keterlaluan. Ini menunjukkan kalau kesadaran berdisiplin masyarakat masih rendah.

Hal tersebut pernah terjadi ketika seorang pejabat daerah atau penceramah sudah siap di tempat (datang on-time), namun pesertanya belum banyak yang datang. Apalagi beliau bertanya yang tak ku inginkan meluncur dari bibirnya. “Jam berapa acara dimulai ?”

Barangkali banyak diantara kita yang mengalami kejadian serupa, dan tidak tertutup kemungkinan kita juga terbiasa dengan kata “maaf ya, saya terlambat.” Lalu keluar berbagai alasan untuk membenarkan keterlambatan itu.

Maklumlah jika alasannya sungguhan, namun kebanyakan yang terjadi adalah alasan yang dibuat-buat dengan mencari kambing hitam.

Anak sekolah terlambat karena kesiangan alasannya jalanan macet. Pembicara datang telat karena menghadiri undangan lain. Tentu banyak contoh lainmya. Sayangnya ada yang apatis sampai-sampai menganjurkan orang lain untuk datang terlambat.

Saya pernah mengussulkan dalam undangannya “Undangannya jam 9, dan acara dimulai jam 10, namun tentu saja tidak akan disetujui.”

Keterlambatan itu dianggap sebagai hal yang wajar dan harus dimaklumi. Apa jadinya kalau mayoritas orang berpikir semacam itu. Tentu kegiatan apapun tidak akan berjalan efektif dan jadwal pun jadi kacau.

Telat berkaitan erat dengan disiplin. Jika kita sering telat dan tidak ada masalah, itu artinya kita tidak memiliki sikap disiplin atau tidak terbiasa dengan kedisiplinan. Itu sama artinya merendahkan diri kita sendiri.

Oleh karena itu sudah sepatutnya kita mulai berubah dengan menerapkan disiplin waktu bagi diri sendiri, orangtua mengajarkan kedisiplinan kepada anaknya, guru mengajarkan kedisiplinan kepada siswanya. Selain itu, orangtua dan guru harus memberikan teladan, jika ingin anaknya memiliki sikap disiplin, tentu orangtua dan guru harus memilikinya terlebih dahulu.

Jika sikap disiplin dibiasakan sejak kecil, hingga dewasa pun ia akan terus bersikap disiplin. Seandainya seseorang yang terbiasa berdisiplin lalu masuk ke dalam lingkungan yang menerapkan disiplin yang ketat, seperti militer misalnya. Hal itu tidak akan menjadi masalah baginya. Jika tidak terbiasa bersikap disiplin tentu ia tidak akan tahan dan lari dari tugas.

Segalanya dimulai dari diri kita. Banggalah kalau datang tepat waktu, kita tidak akan rugi. Karena perbuatan baik itu bernilai ibadah dan selalu ditiru.

Wassalamualaikum wr wb.

Aguk-Disarikan dari; http://sejarahlinear.blogdetik.com/tag/disiplin-waktu/

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: