LAILATUL QADAR

Orang yang datang ke masjid untuk beriktikaf secara tulus meninggalkan kenikmatan duniawilah yang pantas meraih Lailatulqadar itu.SEMUA orang berhak dan memiliki peluang memperoleh Laitatulqadar, suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan. Setiap orang juga berhak dan berpeluang meraih khusnul khatimah, kebaikan di akhir hayat, saat meninggal dunia.

Persoalannya apakah meraih Lailatulqadar didapat secara kebetulan atau harus berjuang meraihnya ? Juga hal yang sama, soal khusnul khatimah, apakah orang yang wafat dalam keadaan baik karena kebetulan di akhir hayatnya memang baik, atau kematian yang baik merupakan akumulasi dari kehidupan yang ia usahakan untuk baik ?

Wallahu Alam. Allah Maha tahu. Siapa pun bisa meraih Lailatulqadar dan khusnul khatimah jika Allah menghendaki. Meski demikian, berdasarkan logika manusia sebagai makhluk, Lailatulqadar dan khusnul khatimah tidak diraih oleh orang yang ogah-ogahan beribadah dan malas berusaha.

Meraih kebaikan seribu malam dan kebaikan di akhir hayat harus melalui jalan panjang dan tidak mengenal lelah. Itulah sebabnya Allah tidak memberikan tanda yang eksplisit kapan Lailatulqadar turun. Malam itu selalu menjadi misteri. Manusia juga tidak tahu kapan pastinya akan meninggal.

Jika Lailatulqadar dapat diketahui pasti kapan turunnya, mayoritas manusia yang beriman semalam suntuk akan melakukan ibadah. Setelah meraih Lailatulqadar, bisa saja mereka tidak lagi melakukan apapun, toh dia sudah mengantungi nilai ibadah yang setara dengan seribu bulan.

Kalaupun mau beribadah lagi, orang tersebut akan melakukannya saat Lailatulqadar tahun berikutnya. Kalau seseorang sepanjang hidupnya meraih Lailatulqadar beberapa kali, maka dijamin kebaikan yang diraih akan jauh melebihi usia hidupnya.

Lailatulqadar dan khusnul khatimah selalu menjadi misteri. Tentu Allah menciptakan teka-teki ini bukan tanpa maksud. Hikmah yang dapat dipetik adalah, dengan misteriusnya Lailatulqadar, umat Islam akan terus berjuang mencarinya, setidaknya di sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.

Mengapa di akhir Ramadan ? Karena, puasa memiliki nilai pendidikan yang tinggi. Orang tidak serta merta dapat beribadah secara maksimal di malam hari, kecuali setelah melakukan pelatihan beberapa hari sebelumnya.

Setelah kurang lebih 20 hrin beribadah secara maksimal di bulan Ramadan, Allah memberikan suasana klimaks, dengan menjanjikan bonus yang begitu besar, Lailatulqadar.

Maka wajar, umat Islam yang melaksanakan puasa dengan setengah hati akan melewatkan begitu saja kebaikan yang melimpah itu. Sebaliknya, hanya orang yang datang kepada Allah dengan ketulusan hati dan pasrah yang akan meraih Lailatulqadar.

Orang yang datang ke masjid secara tulus meninggalkan kenikmatan duniawi untuk beriktikaf yang pantas meraih lailatulqadar. Mungkin juga bukan hanya orang yang sedang berada di masjid, tetapi orang-orang yang malam itu berjaga tapi sedang bekerja mencari ridha Allah juga pantas meraihnya. Semoga umat Islam meraihnya dan selamat beriktikaf.

(Aguk-dari PR-23/9/08)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: