TIDAK BERSISA AMALANNYA

Bismillahirrohmanirrohim, Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Allah berfirman dalam surat Al-Qiyamah ayat 36, yang artinya: ”Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan kegitu saja (tanpa pertanggung jawaban) ?”

Suatu ketika Rasulullah saw menyatakan bahwa orang yang bangkrut itu ialah yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala dan seluruh amal salehnya (puasa, zakat, haji, wakafnya dan sebagainya); tetapi ketika pahala itu ditimbang, datanglah orang-orang yang mengadu :

‘YaAllah, dahulu ia pernah menuduhku berbuat sesuatu, padahal aku tidak pernah melakukannya.’ Kemudian Allah menyuruh agar ia membayar orang yang mengadu itu dengan sebagian pahalanya. Kemudian datang lagi orang lain yang mengadu :

‘YaAllah, ia pernah mengambil hakku dengan sewenang-wenang.’ Selanjutnya Allah menyuruhnya  membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu itu. Setelah itu datang lagi pengadu lainnya; Sampai akhirnya seluruh pahala yang dia siapkan habis membayar ia zalimi.

Kini tak ada lagi pahala yang tersisa, semuanya habis dipakai membayar hutang atas kelakuan zalimnya ketika ia hidup. Sementara itu, ternyata orang yang mengadu masih datang juga. Maka Allah memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukannya pada orang itu.

ltulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi dia tidak memiiki akhlak yang baik. Dia merampas hak orang lain dan banyak menyakiti hati masyarakat lingkungannya.”

Kisah ini memberi pelajaran pada kita, bahwa pada intinya tidak ada hutang yang tidak dibayar. Semua bentuk kezaliman yang kita lakukan, harus kita bayar tunai dengan pahala yang kita miliki di akhirat nanti.

Itulah sebabnya dalam surat An-Nisaa’ ayat 111 mengatakan, “Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk (kemudharatan) dirinya sendiri.” Atau dalam surat Al-Israa’ ayat 7, “jika kamu berbuat baik, berarti berbuat baik bagi dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat , maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri.”

Sayidina Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Hidup ini adalah bagian dari mata rantai perjalanan yang harus dilalui manusia, yaitu bermula dari alam roh lalu menuju alam janin, alam dunia, lalu alam kubur, dan terakhir menetap abadi di akhirat.

Yang bijak, akan menabung bekal sebanyaknya agar di akhir perjalanan ia dapat bersenang-senang. Kita harus mengerti benar, bahwa tempat bersenang-senang jika telah sampai di tempat tujuan.

Mereka tidak mau memanggul bekalnya sendirian, ia titipkan bekalnya pada orang lain sehingga ia dapat menempuh perjalanan ini tanpa repot dibebani oleh perbekalannya.”

Selanjutnya Sayidina Ali mengatakan “Bila seseorang memfitnahmu, maka ia harus byar perbuatan jahatnya itu dengan pahalanya. Atau, bila seseorang yang berhutang padamu dan ia tidak mau membayarnya, kelak ia harus membayarnya dengan pahalanya. Kezaliman terhadapmu, pada hakikatnya adalah tambahan pahala bagimu. Begitulah caranya menitipkan bekal kita pada orang lain.”

Marilah kita berlomba-lomba mengumpulkan perbekalan sebanyak-banyaknya, dan moga-moga kita tidak menjadi budak yang kepayahan memanggul perbekalan milik orang lain.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Aguk-Dikembangkan dari Sentuhan kalbu, Ir Permadi Alibasyah).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: